Antologi Pergerakan: Catatan Kritis 21 July 2026
Tiga Sajak di Bawah Langit Juli: Memoar Agresi dan Bangku Kosong
I. Operasi Produk Berdasi
Dua puluh satu Juli, tujuh puluh sembilan tahun lewat,
Peluru bedebah merobek langit pertiwi,
Mereka menyebutnya Agresi, sebuah Operasi Produk,
Merampas lumbung jelata, menguras darah bumi.
Hari ini langit kita tak lagi dibakar mesiu,
Tapi digadai oleh stempel dan tanda tangan,
Oleh tangan-tangan berbalut jas rapi,
Yang duduk manis membagi-bagi peta kemiskinan.
Birokrasi kita sibuk menjelma kasir,
Menghitung laba dari keringat orang-orang pinggiran,
Hukum dikorting, keadilan dilelang ciut,
Sementara kita disuruh kenyang menelan janji pembangunan.
Penjajah tak lagi datang dari seberang lautan,
Mereka lahir dari rahim kita sendiri,
Tumbuh besar menyusu pada ibu pertiwi,
Lalu menjual ibunya saat beranjak tinggi.
II. Absensi yang Tergadai
Lalu di mana kalian, hai nyawa pergerakan?
Di kantin-kantin, sibuk merutuki kejatuhan negara,
Namun telat masuk kelas adalah rutinitas harian,
Dan "titip absen" adalah mantra solidaritas yang hina.
Bagaimana bisa menumbangkan tiran,
Jika melawan tarikan selimut sendiri saja kau gemetar?
Bagaimana mungkin mampu membaca arah zaman,
Jika lembar buku kau biarkan berdebu di atas tikar?
Kita lantang memaki birokrat yang memanipulasi angka,
Tapi kita sendiri terbiasa memalsukan daftar hadir,
Kita berteriak kemiskinan struktural merajalela,
Tapi akal kita sendiri yang nyatanya lebih dulu fakir.
Bangunlah dari rabun literasi ini, kawan,
Bawa kepalan tanganmu ke perpustakaan dan jalanan,
Rapatkan barisan, buang segala basa-basi,
Gotong royong adalah satu-satunya tulang punggung perlawanan.
III. Bukan Indonesia Cemas
Zaman takkan pernah berubah hanya oleh keluh kesah,
Arah bangsa takkan tegak hanya dengan air mata,
Panggil kembali ruh murni para bapak bangsa,
Menyusup tajam ke nadi kita yang mulai buta.
Bawalah kerasnya nyali dan gerak Tan Malaka di pikiranmu,
Nyalakan gemuruh keberanian Soekarno di dadamu,
Dan letakkan teliti nalar Hatta pada setiap langkahmu,
Agar pergerakan ini tak lingsir dikunyah waktu.
Generasi kita adalah jembatan menuju puncak,
Jangan biarkan ia lapuk oleh mental pengecut dan culas,
Kita tenun masa depan dengan literasi dan tindak,
Merajut mimpi yang logis: Indonesia Emas, bukan Indonesia Cemas.
Berhentilah menunggu fajar datang membawakan terang,
Sebab kitalah matahari yang harus berani benderang.
Komentar
Posting Komentar